Lupa, Browser Cache dan Brain Cache

Lupa, siapa sih yang gak pernah merasakan lupa. Bukan hal yang aneh, sekaligus merupakan hal yang harus disyukuri. Lho, lupa kok bersyukur. Kenapa saya bilang kalo lupa itu harus dinikmati?
Karena dengan merasakan lupa artinya otak anda masih ada dan berfungsi sebagai mestinya.

Lalu apa hubungannya lupa dengan browser cache dan brain cache?

Saya bukan pakar psikologi ataupun sejenisnya, hanya menurut hemat saya, kondisi lupa terjadi ketika ada sebagian (bisa kecil ataupun besar) memori yang tidak terpanggil saat dibutuhkan. Apakah memori yang bersangkutan hilang? Tidak. Gak percaya, coba dipancing lagi, nanti juga ingat lagi, namanya aja lupa.

Brain Cache

Ide penulisan artikel ini muncul sesaat ketika saya lagi tidur siang, muncul ide nulis dan yah gak jadi tidur deh. daripada nanti lupa.

Untuk mempermudah definisi lupa (menurut saya), saya menganalogikan daya ingat di otak dengan memori pada system komputer. IMO, komputer adalah cerminan sederhana dari system otak yang amat sangat kompleks. Seberapapun canggihnya komputer yang dibuat saya yakin tidak akan pernah mengalahkan kompleksitas otak manusia.

Sebagai gambaran, dengan melakukan pekerjaan yang sama berulang-ulang, otak manusia akan merekam dan berusaha menghasilkan output yang pada akhirnya lebih sederhana.
Kondisi ini seperti anda bermain game (ayo siapa yang belum pernah main game? rugi … he he selama tidak lupa waktu aja), anda melakukan rutinitas pada level yang sama berulang-kali lantaran melakukan kesalahan dan game over. Selama aktivitas tersebut otak merekam kesalahan yang terjadi dan bekerja untuk memberikan solusi alternatif, hingga tercapailah solusi untuk melalui level yang bersangkutan. Kondisi ini saya menyebutnya sebagai “brain cache“.

Browser Cache

lalu bagaimana dengan Browser cache?
Tentunya bagi pengguna internet browser tahu apa yang dimaksud dengan browser cache – memori sementara (temporary memory) yang disimpan oleh system untuk kemudian dipanggil kembali bila mendapati adanya http request terhadap object yang sama.
Apakah browser cache dapat memberikan output yang dinamis ? Tidak, karena browser cache hanya menyajikan object (bisa sebagai halaman html, images, object flash dll) seperti yang dipanggil setelahnya.

So, apa yang terjadi bila browser anda mengalami lupa? Kondisi lupa pada browser tentunya berbeda dengan kondisi lupa pada otak. Bila memori sementara pada browser dihapus, maka untuk berikutnya browser harus melakukan penyimpanan ulang sebagai cache.

Otak manusia sebaliknya, memori tetap tersimpan, seperti halnya tumpukan arsip, detik ke detik (bisa jadi nano second atau satuan yang lebih kecil), menit ke menit, dst tahun ke tahun.

Apakah mungkin kita (sebagai manusia) melakukan panggilan terhadap memori yang sudah lama sekali (anggaplah 10 tahun memori brain cache lumayan lama). Bisa !
Dan tentunya akan menguras sejumlah kalori dan membutuhkan ketenangan (kalo komputer paling tidak resource CPU dalam kondisi low usage).
Analogi kondisi ini seperti mengambil lembaran memori diantara tumpukan memori yang sangat banyak.

So, berani coba, silakan saja.

Catatan:
Artikel ini hanya merupakan gambaran Browser Cache dan Brain Cache,
Pengunjung datang tidak dijemput, pulang tidak diantar, dan
Penulis tidak bertanggung jawab atas apapun resiko yang mungkin saja terjadi.

 

Comments are closed.