Menanam Gedung Menuai Banjir

Menanam Gedung Menuai Banjir

Jakarta banjir? Bukan lagi banjir sebenarnya tapi kebanjiran. Gimana nggak kebanjiran kalo hampir seluruh pelosok ibukota Indonesia ini menjadi area renang gratis buat publik. Banyak kendaraan di jalan raya menjalani rutinitias (budaya regular saat hujan di ibukota) mogok dan yang pasti lalu lintas yang bukan lagi sekedar padat merayap, tapi sampai hang.

Jangan tanya kenapa Jakarta bisa banjir dan kebanjiran. Tanya dong sama ahlinya :P. Saya mah cuma pemerhati dan sekaligus korban akibat “kolam renang publik” yang melanda Jakarta.

Dulu waktu SD diajarin kalo buang sampah sembarangan nanti selokan macet dan akibatnya banjir. Hanya bila petuah itu dijadikan alasan penyebab banjir Jakarta sepertinya kurang signifikan. Bukan berarti saya menyetujui buang sampah sembarangan ya.
Hanya seberapa besar sih dampaknya dan seberapa krusial efek dari sampah. Apa iya sampah di Jakarta menjadi penyebab nomor satu ?

Belum lagi ada ungkapan banjir kiriman dari Bogor ( duh kayaknya orang Bogor tidak segitunya kalee kirim banjir ke Jakarta :P).

Efek Domino Banjir

Yang pasti saat hujan deras (tidak perlu lama-lama, cukup 5-10 menit saja sudah bisa membuat jalan Jenderal Sudirman sampai MH Thamrin macet abis). Itu artinya buat pejalan kaki harus gulung celana panjang dan pengendara sepeda motor siap-siap cari tempat shelter (perlindungan). bagaimana dengan yang menggunakan mobil pribadi? Ya mendingan cari tempat hangout aja dulu daripada bete di perjalanan. Dan bagi orang biasa macam saya yang biasa naik mercy pintu 3 plus sopir dan asisten plus iringan musik llive show (baca: bus kota) alamat mendekam dengan pengapnya oksigen yang saling berebut.

Fenomena atau Rutinitas?

Nuansa banjir Jakarta ternyata bukanlah fenomena 5 tahunan seperti yang dulu sering disebut-sebut. Gimana mau jadi fenomena kalo tiap kali hujan deras pasti banjir, mungkin lebih pas disebut “rutinitas”.

masih ingat saat banjir melanda Jakarta tahun 2002 lalu. Jalan fly over (layang) dibuka untuk publik dan kendaraan roda dua bisa mencicipi suasana Jakarta dari ketinggian (lewat jalan toll pun tidak bayar – lha emang siapa juga yang jaga tuh gerbang toll :P).

Kampung Melayu dan sekitarnya menjadi area bebas renang, juga di sekitar Manggarai. Lagi-lagi terbayang dulu pas diklat, wuih mau jalan-jalan kemana lha wong jalur sekitar tempat diklat kebanjiran 😛

Dan terulang lagi saat awal 2005. Sampai harus bermalam karena tidak bisa pulang lantaran lantai satu aja terendam sampai sepinggang orang dewasa (yah kurang lebih 50cm – 100cm gitu). Paling kalau begitu ya menikmati saja, sambil iseng bikin pancingan seadanya dan mancing bungkus plastik yang berenang diatasnya.

nah kalo sekarang masih ada lagi, perlu dipertanyakan. Tanya ke siapa? Yang pasti bukan ke saya.

Menanam Gedung di Jakarta, Panen Banjir

Menurut informasi dan berita yang ada bahwa tiap tahun permukaan tanah di Jakarta mengalami penurunan (tinggal menunggu waktu sampai pada level dibawah permukaan air laut saja barangkali).

Kondisi air di Jakarta yang tidak lagi bagus. Bagaimana mau bagus, lihat saja sendiri status Kali Ciliwung, yang dulu ketika Jakarta masih bernama Batavia kali Ciliwung dijadikan jalur moda transportasi air darat. Sekarang? Masih bisa mengalir aja sudah bagus. Warnanya? Kira-kira kalo PDAM (Perusahaan Daerah Air Mandi) Jakarta ambil air dari Kali Ciliwung buat diolah jadi air mandi ada yang minat? hehehe

Lihat sekeliling Jakarta. Digembar-gemborkan sebagai kota dengan pertumbuhan ekonomi tinggi tidak menjadikannya serta merta kota panutan.
Kadang dalam perjalanan melintas jalan-jalan di Jakarta bisa ditemui adanya pembangunan gedung-gedung baru. Baik gedung yang dibangun atas dasar daur ulang (yang lama dibongkar, ganti dengan bangunan baru) atau yang sama sekali baru.

Misal di sepanjang jalan S Parman arah ke Slipi, saat tulisan ini dbuat sedang ada pembangunan 3 gedung baru (mungkin nanti jadinya barengan, kayak anak kembar aja :P).
Padahal di daerah Slipi itu dulunya adalah areal rawa, dan yang namanya rawa pastilah tanahnya kurang bagus daya serap airnya. Entahlah apa sudah ada analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) terlebih dahulu atau tidak, dan entah juga apakah hasil AMDAL itu dipakai atau tidak dan seberapa besar pengaruh dari AMDAL itu sendiri.

Saya bukan anti pembangunan. Saya pro pembangunan, selama itu memperhatikan antara aspek baik dan buruknya. Bila ternyata di suatu tempat dibangun gedung dan dampaknya adalah berkurangnya areal serapan air dan tidak ada jalur bagi air hujan yang turun, bisa dipastikan efeknya adalah BANJIR.

Logika sederhana saja, bila suatu permukaan diatasnya diberi beban, maka efeknya adalah penurunan permukaan tersebut dan tertutupnya aliran disekitar beban tersebut.

Jangan disalahartikan bahwa tidak boleh ada pembangunan gedung di Jakarta, melainkan akan lebih baik bila lebih selektif, dan bukan karena ada unsur lain.

Kalau di sepanjang ruas jalan ibukota dibuat gedung bertingkat, lalu ada dimana areal serapan airnya? Yang ada saja masih minim, bila dibangun gedung bertingkat lagi yah siap-siap saja sedia perahu karet sebelum hujan.

Coba lihat di daerah Blora (arah ke Hotel Indonesia), meskipun hujan tidak seberapa deras (gimana kalo deras), lubang ke saluran air di pinggir jalan tidak cukup memadai (bahkan cenderung tersumbat) akibatnya ya air hujan bisa langsung meluncur bebas deh.

Menagih Janji kampanye Pemilukada Jakarta

Masih teringat saat kampanye Pemilukada DKI Jakarta dalam rangka memperebutkan jabatan Gubernur. Tiap-tiap kontestan plus team sukses nya berlomba-lomba mendapat simpati dari masyarakat. Tidak terhitung berapa banyak poster dan slogan dari tiap pasangan mengambil posisi di setiap tempat yang menarik perhatian mata.
Isinya? Janji-janji kampanye, termasuk janji penanggulangan banjir.
Dan bila kini masyarakat menagih janji dari pasangan terpilih bukanlah hal yang patut diabaikan. Masyarakat Jakarta dengan segala pengorbanannya siap sedia menagih janji bahwa Jakarta akan bebas dari banjir setidaknya tidak perlu resah tiap kali hujan melanda ibukota.

So, bagaimana Bang Foke aka Bang Kumis? Kami tunggu realisasinya ya Pak. Selamat menunaikan jabatan dan kami doakan semoga Bapak senantiasa mendapat hidayah dan petunjuk Tuhan YME, termasuk dalam penanggulangan banjir (dan efeknya) di ibukota tercinta ini.

Comments are closed.