Premium theme atau Commercial? Bagaimana dengan Freemium?

Commercial atau Free. Umumnya oarng akan langsung berasumsi bahwa yang commercial pastilah lebih bagus meski pada akhirnya kalau bisa dapat yang free kenapa tidak :D. Apa benar yang commercial pasti lebih bagus dan yang free adalah sebaliknya? Bagaimana dengan Freemium, nah apalagi tuh?

Tulisan berikut ini sedikit banyaknya merupakan pandangan dan ulasan pribadi saya daripada publik. Namun begitu bilamana ada kesamaan atau kekembaran adalah sama sekali diluar kesengajaan apalagi di-sengaja-sengaja-kan ­čśŤ

Commercial version is better than free?

Bila dihadapkan pada pilihan antara commercial dan free, secara umum orang akan memilih versi yang free dengan dalih kalau bisa gratis kenapa bayar. Atau dalih belum ada dana buat beli layanan yang commercial. (meski ada juga yang sebenarnya bisa beli versi commercial tapi tetap memilih yang free :D).

Apa sih yang membuat sesuatu layanan dan atau produk menjadi commercial?

Untuk mempermudah saya akan menggunakan themes atau template sebagai contoh yang paling mudah ditemui. Ya seperti hanya saat anda membaca artikel ini, sedang berada pada themes yang yang tidak memiliki sifat keduanya. Ya karena themes situs ini dibuat dari nol secara customized.

Commercial Themes menurut saya mempunyai nilai komersial antara lain karena memiliki sisi purna jual (after sales) nya seperti Support (baik berupa forum member atau fasilitas private chat  dengan Support Teamnya).

bagaimana dengan produknya sendiri?

Sejauh yang bisa saya cermati dan amati, commercial themes umumnya menawarkan sisi keindahan desain, permainan warna yang cantik dan elegan. Seringkali provider themes commercial pun memasukkan sejumlah senyawa fitur tambahan yang menjadi ciri khas atau nilai tambah dari produknya. Belum lagi provider themes menyediakan kemudahan pada berbagai hal yang menarik, click and drag, plug and play.

Lalu bagaimana dengan isi atau muatan produknya sendiri?

Commercial themes in ‘advanced’

Saya pernah mendapati sejumlah themes commercial (bukan ambil dari warez), tapi dari pelanggan dan atau kawan yang meminta saya untuk memodifikasi themes yang bersangkutan. Meski dibalut dengan keindahan desain kadang ada hal yang terlupakan dari pengembang / provider themes.

Misalnya, sisi semantik yang boleh dibilang tidak jelas mau dibawa kemana. Well, so far pengguna themes (enduser ) umumnya juga tidak terlalu mempedulikan apakah themes nya dibuat dengan semantic code atau tidak.

Sisi lain, penulisan kode yang cenderung plug and play meski membebani resource server dan muatan http requests yang gila-gilaan jumlahnya. Bahasa campurannya “sing penting running, mbuh nek sql or server resource-e munggah, ditanggung penumpang

Belum lagi, pada sisi database. saya pernah menemui themes dari 3 provider yang memberikan muatan database yang wow jumlahnya gak kira-kira. Pada database, tabel prefix_options  (nama prefix_ tergantung dari setting konfigurasi masing-masing) WordPress secara mendadak akan melonjak sesaat themes diaktifkan. Mulai dari isian berapa jumlah artikel per halaman (post per page) di halaman depan hingga segala macam pernak-pernik setting dari theme options panel.

Secara umum, hal ini memang tidak disadari oleh pengguna themes, namun amat sangat disadari oleh server, dalam hal ini sisi database server dan resource usage.

Bagaimana rasanya pada sisi pengunjung website? Sejauh yang pernah saya temui, website dengan muatan loading database prefix_options jumlah besar dan apalagi muatan besarnya baris tabel tersebut berasal dari themes, dampaknya cukup nyata, heavy loading.

Cara mengujinya bagaimana? Cara yang sederhana adalah dengan melihat loading query dari database, antara lain dengan plugin Blackbox

Belum lagi bila ditambah penggunaan library javascript yang semuanya di load secara terus menerus di semua halaman dan ukurannya tidak kepalang tanggung, baik dari document size ataupun jumlah satuannya.

Bagaimana dengan penulisan kodenya sendiri?  Saat melakukan pengujian commercial themes dengan standar dari WordPress Theme Development, saya mendapati betapa themes yang bersangkutan gagal dengan sukses alias tidak lolos sama sekali.

Caranya mudah saja, pasang plugin ThemeCheck, deBogger, Deprecated Tools dan sejenisnya, lalu periksa hasilnya. Tunggu ulasan berikutnya bagaimana menguji kesehatan themes WordPress yang sobat pakai pada artikel lanjutan.

Menurut hemat saya, penulisan kode yang terkesan run first, server overload belakangan adalah salah satu nilai minus dari commercial product itu sendiri.

Menurut saya commercial themes yang semacam itu belum bisa disebut sebagai produk premium, tapi lebih cenderung pada commercial after sales, atau nilai komersialnya ada pada sisi purna jual.  Sementara produknya sendiri saya akan berpikir berulang kali sebelum membeli. Kalaupun diberi, saya lebih cenderung menikmati desainnya.

Jadi bila mana ada dana untuk membeli themes commercial, pilihlah produk dengan kualitas premium dan after sales yang bagus. Itu baru namanya kualitas commercial themes yang sesungguhnya.

Freemium, free product with premium quality

bagaimana dengan free themes yang banyak beredar. Apakah tidak kalah bagus dengan yang commercial?

Umumnya free themes memang dikemas dengan tanpa after sales (purna jual) meski ada juga provider atau pengembang free themes yang menyediakan waktu dan tenaga untuk menjawab kendala dari enduser themes yang mereka buat.

Product free umumnya memang tidak tampak nge-jreng seperti halnya commercial, dan hal ini layak dimaklumi. Selain pada sisi bahwa tidak dalam rangka berjualan themes, juga umumnya dibuat pada waktu senggang. Beda dengan commercial product yang memang sengaja dibuat sebagai pekerjaan utama.

Meski begitu bukan berarti free themes tidak memiliki kualitas yang kalah dibanding dengan commercialnya. Sebut saja, sejumlah themes yang dirilis di WordPress Themes Repository. Selain telah melalui serangkaian uji coba (yang lumayan bikin stress :D), themes yang lolos pun dipastikan aman sehat sentosa dari muatan unknown protocol.

Dengan lisensi GPL sobat bisa melakukan modifikasi baik kode PHP atau desainnya hingga mencapai kondisi yang diinginkan.  Namun perlu diingat bahwa lisensi GPL ini bisa jadi tidak berlaku pada sisi file css, js dan desain yang dapat diberlakukan lisensi selain GPL, dan tentu saja saat modifikasi tidak serta merta bisa mengubah nama author kode spesifik PHP pada themes, melainkan sebagai modifikator.

Masih belum puas juga, sejumlah free themes pun sudah banyak yang mengadopsi WordPress Setting API dan mempergunakan themes framework so dengan demikian sejumlah kekhawatiran akan muatan loading database bisa dimimalisir. Kenapa? karena dengan penggunaan Setting API maka pada tabel prefix_options hanya memuat satu baris tabel theme options utama yang berisi semua hasil settingan dari themes options.

Sampai disini, pilihan ada pada sobat-sobat sekalian. Bilamana harus memilih antara commercial atau free saya hanya menyarankan pilihlah yang sesuai dengan kebutuhan dan bukan karena iming-iming atau godaan kecantikan desain semata atau gratisannya saja.

dan bagi yang penasaran bagaimana melakukan uji kesehatan dan optimasi themes WordPress bisa terus ikuti lanjutan artikel ini.

selamat malam dan selamat istirahat.

Tangerang, Banten, Indonesia, 23.33 GMT+7

(Alhamdulillah badan mulai fit dan jari-jemari ini bisa dipakai mengetik lagi)

Comments are closed.