Valid CSS bukan Jaminan Lolos Cross Browser

Valid CSS is not guarantee for cross browser testing passed.
Tulisan ini ditulis bukan berarti saya mumpuni soal bagaimana membuat web yang lolos cross browser testing. Sekali lagi tidak. Membuat web itu mudah, menyajikan isi berita juga. Sering kali hal yang terlupakan adalah bagaimana supaya web yang sudah dibuat dengan genangan airmata (lantaran nguantuk tenan) bisa tampil seperti apa adanya di semua internet browser,dalam hal ini browser yang GUI, bukan Lynx yang only text.
Kesulitan dan seharusnya menjadi tantangan dalam menghasilkan web yang clean, dan cross browser ready adalah pada saat diakses dengan Internet Explorer. Bukan berarti pada browser lain tidak, ada juga hanya relatif lebih mudah diatasi dibanding saat dibuka dengan IE.

Tantangan yang paling nyata adalah masalah tampilan (baca: desain layout) yang siap-siap tampil kocar-kacir saat di IE, apalagi IE6. Itu aja? Tidak juga, ada lagi masalah dengan hovering dan lainnya. Secara umum hal ini ditulis sebagai IE mis-interpretasi.
Ya, mis-interpretasi (kadng disebut juga sebagai bug pada IE6) misalnya IE 6 punya kebiasaan membuat double margin. Contoh kasus,
code :margin-right: 20px
hal ini dapat menyebabkan tampilan di IE 6 dibaca sebagai margin-left:(koreksi salah ketik) margin-right40px, so alhasil tampilannya bisa bergoyang ala IE gitu deh.

Apakah memang selalu terjadi seperti itu? Jawabannya relatif, tergantung dimana selector yang menggunakan margin width diterapkan. Hal ini hanya sekelumit kendala yang dapat dialami untuk menghasilkan tampilan yang lolos cross browser.

Dan terkait dengan masalah validasi CSS. Menurut pendapat awam seorang riesurya (baca: original newbie), validasi sendiri lebih cenderung kepada kemudahan pemeliharaan dan penyesuaian akan versi CSS yang digunakan. Saat tulisan ini dibuat, mesin validator menggunakan CSS versi 2.1 sebagai acuan, sementara itu di W3C sedang digodok CSS versi 3 yang masih berupa draft – bisa dicoba hanya jangan berharap bakalan lolos validasi atau lebih-lebih mendapatkan tampilan cross browser.

Untuk menghasilkan tampilan cross browser ready lebih kepada bagaimana web desainer/developer memainkan peran dalam mengutak-atik CSS-nya (terutama bila menggunakan tableless) dalam pembuatan struktur layout. Contoh lagi, web MyfiaOnTheWeb ini sejak awal dirilis (2007) lolos dari mesin validator CSS 2.1 tapi tampil amburadul di IE 6. Dan berikutnya saya melakukan beberapa eksperimen untuk melahirkan sebuah web yang bisa tampil sama di semua browser GUI.

Kalo begitu, apakah validasi CSS tidak diperlukan untuk menghasilkan web yang cross browser? Tidak, saya tidak menyebutkan mutlak seperti itu.
Sejauh pengalaman saya bermain CSS (meski masih seperti ikan belajar berenang), dengan melakukan validasi akan lebih mudah menemukan letak kesalahan dalam proses layout desain.
Hal ini sering saya dapati secara sadar (kalau lagi tidur gimana bisa tahu ..he hehe).

Sementara itu, dalam hal cross browser testing sendiri IMO lebih cenderung pada bagaimana kedisiplinan web desainer / developer dalam melakukan penyusunan struktur web. Tidak ada salahnya dari sekarang memperketat diri dengan semantic web, XHTML validation, dan jangan lupa ada teknik CSS resetting yang ditulis oleh master CSS (yang ini beneran master, saya banyak belajar dari beliau meski gak pernah ketemu).

Kalo mau tahu seperti apa tampilan web yang Anda buat atau miliki, silakan lakukan testing di BrowserShot disitu bisa cek seperti apa sih bukan hanya lintas browser tapi juga lintas operator Operating System.

demikian kiranya artikel ini diposting, silakan dibaca, dicomot, atau bila anda suka boleh dijadikan bahan gosip diskusi….akhirul ketik, saya mau login dulu ke FB (makhluk Tuhan yang baru kenal FB trus kecanduan..he he he)…. Piss and Love.

Thanks buat Mas Dani Iswara untuk inspirasinya dalam hal validasi

masih di Cikarang,
Maafkan aku yang tidak pernah menjadi terbaik bagi dirimu

Comments are closed.